Bismillaah
Kembali senja bergulir. Keindahan senja memang selalu membuatku terpukau, menyimpan rasa sejuk, menentramkan dan teduh jika dipandang. Langit sore, perpaduan warna yang begitu mengesankan. Seindah penciptanya. Warnanya yang merona. Membuat mata bingar berkaca-kaca.
***
Aku kembali menyusuri perjalanan panjang dari kampus farmasi Ugm menuju persinggahan glagahsari. Sepeda motor yang kukendarai dengan kecepatan sedang. Hampir menuju lampu merah ke-2 dari 8 lampu merah yang kulalui. Aku memutar balik kendaraanku. Teringat besok adalah praktikum ilmu resep. Seperti biasa ada pretest yang menegangkan. Dan ku putuskan untuk membeli buku sakti anak farmasi ‘kapita selekta dispensing 1’ di daerah Terban, yang notabene di situ adalah pusatnya buku murah alias kw-an. Biasanya penjual memberikan diskon yang pas dikantong mahasiswa. Ya, ada juga yang harus terlibat dalam tawar menawar sengit antar penjual dan pembeli. Sambil menunggu giliranku. Saat penjual mencarikan buku yang kuminta. Ada satu sisi lain yang membuatku mengerjap tajam. Seorang wanita paruh baya. Sosok tangguh yang tak kenal payah. Seorang tukang parkir wanita. Seragam orange-nya, khas tukang parkir, terlihat usang, warnanya yang meluntur berliput sapuan debu lalu lalang kendaraan dari tadi pagi. Mata ini terus memandanginya. Ibu itu mencari kursi, berusaha membenarkan posisi duduk. Tangannya terlihat mencari cari sesuatu dari tas yang diselempangkan di bahunya. Baru saja ia mengeluarkan buku tipis berwarna biru. Entah buku apa. Mataku mulai membelalak, memastikan buku apa yang sedang ia baca. Ya, Ternyata buku biru itu adalah buku iqra’ : buku tuntunan sebelum membaca alquran. Aku ingat betul buku itu. Buku iqra’ jilid 1-6 yang telah kukhatamkan sejak taman kanak-kanak dulu. Penjual buku di sebelah kios buku yang menjadi langgananku, terlihat sabar dan perlahan –lahan membimbing ibu itu. Sambil menirukan kata demi kata yang terucap dari lisannya. Masyaa Alloh semangat sekali ibu itu. Disela kesibukannya menjadi tukang parkir ia sempatkan untuk belajar.
***
Aku putuskan untuk kembali cepat. Karna langit sore tiba-tiba berubah mendung bergelayut hitam, seakan tak kuasa menahan air tuk segera ditumpahkan. Sudah lama jarum spedometer motorku mati. Seberapa kencang aku meng-gas kendaraanku, aku tak tahu. Kupijak rem belakang kuat-kuat begitu juga rem depan. Seeeeet,ngiiiik. Suaranya sungguh membuat telingaku menari geli. Lampu lalu lintas hijau 3-2-1-0, hitungan mundur tak kuasa ku kejar, karna terlalu cepat untuk beralih ke merah. Terhenti. Setitik air telah membasahi kaca spedometerku. 120 detik hitungan mundur lampu merah di persimpangan jalan itu berakhir. Tiiiiiiin, tiiiiin, klakson motor dan mobil saling bersautan. Tak sabar untuk segera melaju. Karna hujan akan segera memburu kami dan lampu hijau yang hanya 14 detik saja. Sungguh singkat. Tinggal lima menit lagi sampai, In syaa Alloh. Aku bergegas.
***
Rumah No 567. Alhamdulillaah sampai. Kutuntun perlahan motorku di lorong sempit menuju tempat parkiran. Bressssss. Hujan menderas tiba-tiba. Bau tanah basah khas hujan. Aku menyukainya. “ Allohumma shoyyiban naafi’aa…”. Aku berjalan menuju kamar.
***
Hari ini, aku sungguh bersyukur karna dua hal. Pertama, karna aku mendapat pelajaran berharaga, bahwa manuasia sepanjang hayatnya harus selalu semangat untuk mencari ilmu. Ya, mencari ilmu tidaklah memandang usia. Siapapun berhak untuk belajar. Tidak perlu malu. Asal kemauan kuat untuk bisa. Kedua, karna Alloh menghendaki hujan deras setelah sampai kost-an. Alhamdulillaah.
End
Ditulis saat kembali ke tanah kelahiran,
Sragen, 24 November 2014
Zaizafun Zinnia
Sragen, 24 November 2014
Zaizafun Zinnia
0 comments:
Posting Komentar
Tinggalkan komentar di sini. Terimakasih telah berkunjung ke blog ana.